Guru

Yuyus Saputra: Dosen Muda, Penggerak Ksatria

Posted on

Jika sohib melihat judulnya tampak berlebihan alias lebay, jangan heran, ini Dosen lho! Masak saya harus pakai judul, “Dosen Muda, Pembakar Jiwa Raga”. Kata ‘Pembakar’-nya itu ambigu banget. Pengennya makna positif malah disangka negatif. Cari judul yang aman aja deh, haha…

Maaf, pak Yuyus. Ini merupakan sebuah coretan rasa terima kasih saya kepada bapak. Karena support bapak juga lah saya dapat menjadi seorang sarjana pendidikan bahasa Inggris. Izinkan saya untuk menggambarkan bapak dari awal perjumpaan sampai kelulusan.

AWAL JUMPA – DOSEN PENUH PETUALANGAN

Kalau tidak salah, waktu itu saya kuliah tingkat dua (tahun 2010). Beliau masuk ke kelas TEFL (Teaching English as Foreign Language) dan mulai mengadakan sebuah kesepakatan dengan mahasaiswanya, yakni beliau menginginkan suasana kelas yang full English. Tentu saja hal ini memberatkan mahasiswa yang kurang paham bahasa Inggris (padahal mereka mahasiswa pendidikan bahasa Inggris). Namun bagi saya, hal tersebut merupakan sebuah ‘tantangan’ yang harus siap saya hadapi kapanpun dan di manapun. Sayangnya, peraturan ini tidak berlaku lama, mungkin karena banyaknya mahasiswa yang ingin bahasa pengantarnya bahasa Indonesia.

Selang beberapa hari setelahnya, beliau mulai akrab dengan kami (para mahasiswa) setelah sebelumnya agak kesulitan berhadapan dengan mayoritas mahasiswi. Beliau mulai menambahkan kisah petualangannya pada mata kuliah sebagai bentuk contoh maupun hiburan selingan di kelas. Kata-kata yang paling saya ingat ialah, “making out”. Haha… Itu kisah ketika beliau berkunjung ke Paris. Menurut beliau, di menaranya banyak yang making out. Mengenai artinya, IYKWIM*) laah…

Pak Yuyus bersama anak-anak 'bule'.
Pak Yuyus bersama anak-anak ‘bule’.

DETIK AKHIR JUMPA – DOSEN PENUH SEMANGAT DAN SABAR

Tidak terasa, saya hampir menginjak di semester akhir. Pak Diman, bagian tata usaha prodi bahasa Inggris, mulai menyebarkan selembaran formulir pengajuan dosen pembimbing skripsi. Langsung saja saya isi nama-nama dosennya, dari yang prioritas (letaknya paling awal/atas) sampai yang minoritas (letaknya paling akhir/bawah). Saya saat itu belum tahu siapa saja dosen yang ditunjuk menjadi pembimbing skripsi (padahal sudah ada pengumumannya di mading jurusan). Namun, saya tetap menulis nama-nama dosen tersebut sesuai dengan keinginan hati saya. Salah satu dari list dosen pembimbing yang menjadi prioritas saya ialah pak Yuyus.

Beberapa hari kemudian, SK (Surat Keputusan) pembagian dosen pembimbing skripsi dari Dekan sudah turun. Setelah saya lihat, pak Yuyus ternyata menjadi dosen pembimbing kedua. Sementara itu, dosen pembimbing pertama saya adalah pak H. U. Komara, S.Pd., M.Pd.. Rumornya, mahasiswa bimbingan yang berhadapan dengan pak Komara ada yang lancar dan sebagian lainnya kurang beruntung. Setelah saya sendiri yang mengalaminya, ternyata bimbingan dengan pak Komara hanya perlu ‘sering’. Kalau cuek dan jarang yaaa sama denga hasilnya.

Bimbingan dengan pak Yuyus cukup enjoy. Tidak ada kata tegang karena beliau menjelaskan kesalahan-kesalahan dengan jelas dan gamblang. Dihubungi via sms maupun telepon pun oke. Walau terhambat oleh kegiatan saya menjadi Guru honorer di sekolah, tapi beliau tetap sabar mengadapi saya yang sering merepotkan. Hingga pada akhirnya, saya jadi malu sendiri. Ketika teman-teman seangkatan yang lain sudah pada lulus kuliah dan diwisuda (pada bulan Mei 2013), saya malah ‘betah’ di kampus. Namun cahaya harapan itu masih ada, gelombang terakhir wisuda pada bulan Desember 2013 menjadi ambisi saya.

Tenaga dan pikiran saya kuras habis. Siang dan malam hanya untuk memikirkan skripsi. Jatuh bangun pada saat sidang telah saya lalui. Cercaan maupun motivasi telah saya alami. Saya serasa menjadi manusia yang ‘baru’. Malam-malam (ba’da Isya), saya pergi ke rumah pak Yuyus. Saya minta tanda tangan beliau sekaligus do’a untuk menghadapi sidang skripsi yang diselenggarakan keesokan harinya. Sepulangnya dari rumah pak Yuyus, motor mogok di perjalanan. Haduuuh… Ada aja cobaan, tapi alhamdulillah berhasil hidup dan pergi ke show-room pak Komara. Di sana, show-room sudah tutup. Saya berdo’a pada Allah, semoga ada orang yang membantu saya menaruh rangkap skripsi ini ke dalam. Akhirnya makbul juga, tidak berapa lama, datang seorang karyawan pak Komara, saya minta tolong padanya untuk menaruh rangkap skripsi ini di meja pak Komara. Alhamdulillah, setelah saya tanya apakah sudah diterima, pak Komara bilang, “Sudah”.

Begitulah pak Yuyus apa adanya. Sederhana dengan motor Suzuki Smash (kalau tidak salah) ke kampus. Gaya berbicara pun bersahabat, tidak asal ceplas ceplos. Dosen muda dengan semangat dan penampilan yang muda. Penggerak ksatria (mahasiswa bimbingan skripsi) sampai lulus dan wisuda. Terima kasih pak Yuyus atas segala jasa dan pengorbananmu pasti akan kami kenang selalu.

*) If You Know What I Mean (Jika kamu tahu apa yang saya maksud)