Keluarga Besar

Mumun Maisaroh: Mamah Ramah, Gemar Ibadah

Posted on Updated on

Dalam keluarga istri, ada satu sosok yang membuat saya kagum. Beliau ialah ibu dari istri saya, biasa dipanggil dengan sebutan ‘Mamah’. Pertama jumpa dengannya, bersiaplah menerima senyuman ramah khas Mamah (halah, gaya bahasanya, hehe…). Pribadinya tekun, sama seperti suaminya. Jadi, klop lah Mamah dan Apah menjadi sepasang suami istri.

Mamah Mumun ketika bedara di pernikahan saya dan istri
Mamah Mumun ketika bedara di pernikahan saya dan istri

Peran Mamah dalam keluarga sangatlah besar. Beliau bertugas antara lain:

1. sebagai bendahara rumah tangga,

2. sebagai Guru sekaligus sahabat istri saya,

3. sebagai wakil kepala rumah tangga ketika Apah tidak ada,

4. sebagai dokter ketika istri dan adiknya sakit,

5. sebagai pakar pertanian ketika berada di sawah,

6. sebagai koki ketika berada di dapur,

dan masih banyak lagi peran beliau yang belum saya tulis (dan mungkin akan sulit ditulis karena saking banyaknya, hehe).

Meski tidak sempat mengayomi bangku SMA, Mamah pandai dalam mendidik anaknya. Semua anaknya mampu baca tulis al-qur’an. Bahkan, istri saya pun sampai lulus kuliah mampu dilunasi segala pembiayaan oleh Mamah dan Apah. Masya Allah. Itu bukti bahwa tingkat pendidikan seseorang tidak ada kaitannya dengan kemampuannya dalam mendidik anak.

Satu hal yang masih menjadi pikiran saya sampai saat ini, saya masih belum mampu membantu meringankan beban hidup keluarga istri. Namun, saya sangat yakin dengan segala usaha yang telah saya tempuh—suatu saat—pasti dapat mewujudkan cita-cita Ibu, Papah, Mamah dan Apah untuk berangkat umroh bersama. Aaamiiin.

‘Apah’ Uju: Pekerja Keras, Senantiasa Ikhlas

Posted on

Sosok inspiratif berikutnya datang dari keluarga istri, yakni ayahanda Uju. Namanya paling pendek, namun tekad, semangat, serta ibadahnya sangaaat tinggi. Itulah salah satu hal yang membuat saya nyaman menginap di rumah mertua, tidak lain karena atmosfir ibadahnya yang terasa.

Apah Uju (biasa dipanggil ‘Apah’) memang bukan orang yang berpendidikan tinggi, namun dari karakternya pasti banyak yang akan mengira bahwa Apah minimal lulusan MA/ Madrasah Aliyah (sederajat SMA) karena ibadahnya yang tekun, padahal sebenarnya Apah hanya lulusan SD. Masya Allah. Hafalan qur’annya pun tidak main-main, mungkin sekitar 2 juz beliau hafal (dibandingkan saya satu juz pun belum sampai). Itulah alasan mengapa Apah seringkali ditunjuk sebagai imam di masjid dekat rumahnya.

Foto beliau ketika pernikahan saya dan istri
Foto beliau ketika pernikahan saya dan istri

Profesi Apah memang serabutan, namun ketika menjalankan tugasnya, beliau melakukannya dengan sungguh-sungguh, walaupun tidak sebanding dengan bayaran yang diterimanya. Terkadang beliau menjadi pedagang yang bertugas menawarkan/memasukkan barang dagangan ke warung-warung kecil atau di pelosok daerah, ada kalanya beliau menjadi fitter (pekerja bangunan).

Dalam menjalankan tugasnya, baik sebagai pedagang maupun pekerja bangunan, beliau selalu mempunyai standar kerja yang tinggi supaya hasil yang beliau kerjakan maksimal dan memuaskan klien. Contohnya, ketika berdagang, beliau sering memberikan bonus pada pelanggan, jujur, dan istiqomah. Bagaimana ketika sedang bekerja di bangunan? Beliau mengerjakannya dengan rapih dan teliti, bahkan kliennya pun sangat puas dengan hasil yang beliau kerjakan. Alhamdulillah.

Terlalu banyak contoh-contoh keteladanan beliau jika semua diulas di sini. Intisari dari perjalanan hidup Apah yang dapat kita petik ialah bekerjalah dengan sungguh-sungguh, apapun itu. Niscaya apa yang kita usahakan mendapatkan hasil yang lebih baik di masa mendatang.

Dedi Ruswandi: Paman Berwibawa, Utamakan Taqwa

Posted on

Jika sohib baru mengenalnya, mungkin tidak akan menyangka paman saya yang satu ini mempunyai saudara kembar. Tidak hanya berbeda wajah, bahkan dari fisiknya pun terlihat jelas berbeda. Sebutan lain bagi paman kembar saya ialah kembar tidak identik. Ada dan memang nyata.

Beliau ialah dari sekian banyak adik kandung bapak, seorang adik laki-laki bapak (paman, mamang) yang membuat saya kagum dan takjub. Bukan karena hartanya yang berlimpah. Bukan pula karena status sosialnya yang tinggi. Paman saya dikagumi karena ibadahnya yang istiqomah.

DSC_0073 - Copy (2)
Foto Mang Dedi pada Saat Resepsi Pernikahan Saya

Memang, ketaqwaan Mang Dedi (panggilan sehari-hari) terlihat istiqomah (teguh pendirian). Ketika waktu kumandang adzan tiba, beliau bersegera mendatangi masjid terdekat. Hampir setiap harinya tidak luput dari shalat berjamaah di masjid. Rasa syukurnya yang begitu dalam, sehingga cobaan yang Allah berikan tidak lantas membuat wajahnya muram. Menyembunyikan kegelisahan dan hanya menampakkannya kepada Allah ialah satu-satunya cara beliau mencari solusi permasalahan.

Bisa dibilang, Mang Dedi merupakan satu dari beberapa orangtua saya yang turut mendidik saya, meski beliau bukan bapak kandung. Jasanya sungguh sangat banyak mempengaruhi alur pemikiran serta kehidupan saya. Semoga amalan kebaikan beliau berlipat ganda dan semoga diharamkan atasnya api neraka. Amiin.

Cucu Suminar: Bibi Mandiri, Sukseskan Famili

Posted on Updated on

Beliau merupakan bibi yang tangguh. Di masa mudanya, beliau meneruskan perjuangan ibu saya dalam membantu perekonomian keluarga ibu. Bi Cucu memang mempunyai karakter kuat untuk terus maju. Karakter yang kuat ini diikuti oleh beberapa adiknya, seperti Mang Yeyep Syaiful Mubarok dan terbukti pernah mendulang sukses ketika masih duduk di bangku sekolah.

Dalam karirnya, Bi Cucu menjalani dengan tekun. Hingga pada akhirnya, beliau menemukan tempat yang tertinggi di mata Allah, yakni sebagai ibu rumah tangga yang serba bisa. Bisa mengurus perekonomian keluarga, anak, suami, rumah, hubungan baik dengan tetangga sekitar.

IMG01187-20110831-0729-compressed
Bi Cucu (Sebelah Kiri) dengan Ibu (Kanan)

Keputusan beliau untuk menjadi seorang ibu rumah tangga memang bukan tanpa alasan. Selain menjaga pergaulan anak-anaknya dari kerusakan, beliau juga mendidik anak-anaknya supaya rajin beribadah mendekatkan diri pada Allah.

Bi Cucu adalah wanita yang berjasa dalam hidup saya, meski saya sering melakukan hal yang menjengkelkan, tetapi beliau berusaha untuk memakluminya serta menasehati saya ketika salah. Bahkan, dalam perekonomian pun, Bi Cucu menyempatkan diri untuk membantu saya. Sungguh, saya banyak berhutang budi maupun jasa kepada beliau.

Saya juga meminta maaf, sampai saat ini belum bisa menjadi orang sukses yang diharapkan. Tetapi saya akan terus berusaha selama Allah masih memberi saya nyawa.

Berjuanglah Bibi! Allah besertamu!