Keluarga Kecil

Khaira Zidna: Awal Cerita, Mengusung Makna

Posted on Updated on

20141228_160913 20141228_160943

20141228_161010 20141228_160653

Sebenarnya, belum banyak cerita tentang ‘orang’ yang satu ini. Khaira Zidna Antonia merupakan anak pertamaku dengan Leni Nuraini. Bayi mungil ini diberi nama oleh Bundanya, artinya keurang lebih ialah Berikanlah kami Kebaikan dari Orang yang Jenius. Bundanya sengaja menambahkan nama belakang saya, mungkin sebagai bentuk apresiasi. Namun bagi saya, itu lebih dari sekedar bentuk penghargaan.

Berbagai macam ekspresi Aila yang direkam oleh Bundanya
Berbagai macam ekspresi Aila yang direkam oleh Bundanya

Khaira memiliki nama panggilan ‘Aira’ atau jika sulit diucapkan, boleh juga ‘Aila’. Wajahnya cenderung mirip Bundanya. Wajar menurut saya, nanti kalau kebanyakan mirip Daddy-nya malah jadi ganteng dong? Haha…

Jujur, saya membuat blog ini tidak lain hanya karena urusan keluarga. Saya bercita-cita, ketika saya nanti tiada, anak, cucu, maupun keturunan saya dapat mengetahui siapa saya dan bagaimana saya. Ini lho Daddy, ini lho grandpa, ini lho uyut, dan seterusnya. Setidaknya, hal ini juga sebagai bentuk usaha agar nantinya keturunan saya tidak pareumeun obor alias putus tali silaturahmi dengan keluarga jauhnya.

Masih teringat dengan jelas detik-detik prosesi persalinan Aila. Lebih dari satu jam Bundanya berada di dalam ruang persalinan bidan Hj. Entin. Saya tidak terlalu bisa merasakan rasa sakit yang istri saya derita, namun saya paham jika rasa sakit itu dilimpahkan pada saya, mungkin saya sudah pingsan. Itulah betapa hebatnya wanita, betapa saya mengaguminya.

Pesan Daddy pada anakku, Aila. Jika suatu saat Aila sudah bisa baca ini, tolong do’akan terus Bunda dan Daddy. Semoga Aila menjadi putri Daddy yang sholehah, selalu ta’at pada Allah dan segala perintah-Nya.

 

Leni Nuraini: Istri Setia, Tiada Dua

Posted on Updated on

Judulnya lebay ya? Hehe…
Yah, tapi begitulah komitmen saya dalam hidup, tidak akan menduakan istri. Karena saya tahu bagaimana perasaan istri jika diduakan. Walaupun diperbolehkan dalam Islam untuk memilih sampai empat, tetapi bagi saya, satu pun sudah sangat memenuhi. Alhamdulillah.

Saat ini, istri saya sedang mengandung di usia kehamilannya yang sudah mencapai 8 bulan. Saya panggil anak saya yang masih di dalam perut dengan sebutan, “Utun Markutun.” Panggilan itu di dalam budaya Sunda berarti bayi yang masih dalam kandungan (Utun). Kalau Markutun-nya itu karangan saya saja agar lebih terkesan imut (khan masih bayi, hehe).

100_0437 - Copy-compressedPertemuan saya dengan istri saya terjadi di kampus, saat itu saya masih berstatus sebagai MABA (Mahasiswa Baru). Kebetulan yang ditakdirkan Allah, saya bertemua dengannya. Sosoknya saat itu bagai bidadari yang ceraaah sekali (sampai silau saya melihatnya). Pada waktu itu, istri saya bersama dengan teman SMA saya, Gina Yunia Rahma Azizah kalau ngga salah kepanjangannya, hehe. Gina bersahabat dengan istriku, bahkan sampai lulus kuliah pun masih.

Usai perjumpaan saya dengan istri saya (saat itu masih berstatus ‘calon’), saya mencari info lewat Gina. Meski tanggapan Gina terhadap saya kurang, namun saya tak putus asa. “Yang penting dapat nomornya”, pikir saya.

Mulailah saat itu saya melakukan kontak sms, telepon dengannya. Dengan berbagai trik, akhirnya dapat juga, hehe. Walau itu harus menunggu jawaban dua minggu lamanya.

Saya tahu, bahwa Islam tidak mengajarkan berpacaran. Pikiran saya saat itu juga bimbang, bagaimana saya bisa khusyu beribadah, sedangkan investasi dosa saya terus bergulir. Akhirnya saya putuskan untuk menikah, meski pendapatan masih kurang, namun saya tetap optimis bahwa rezeki akan selalu ada bagi hamba Allah yang berusaha.

Saddam Abrar: Si Jenius, Jarang Serius

Posted on Updated on

Nama lengkapnya Saddam Abrar Arafah. Kata orangtua saya, nama Saddam sebenarnya telah direncanakan untuk saya. Tetapi, berhubung zaman itu terbilang ‘nge-trend‘ dan banyak yang pakai, akhirnya urung dilaksanakan.

Arti dari nama tersebut ialah ‘penggebrak’ yang baik pada bulan Arafah. Maksud dari penggebrak antara lain menjadi yang terdepan dalam urusan kebaikan, terutama dalam hal keagamaan. Inilah harapan orangtua yang ditanam melalui nama adik saya.

Pa UstadzSaddam lahir di Serang, 6 Januari 2009 tepatnya di RS Sari Asih. Dilahrikan dengan selamat, meski harus melewati cara caesar. Masih ingat dalam pikiran saya, dulu sebelum detik-detik kelahirannya, Papah mengharapkan anaknya perempuan. Ternyata, Allah berkehendak lain, laki-laki ini insya Allah akan menjadi penggebrak yang melahirkan gagasan bermanfaat baru.

Kebiasaanya yang paling saya hafal ialah ketahanan tubuhnya ketika berada dalam suhu rendah (dingin). Mungkin ini adaptasi sejak lahir yang terbiasa berada di ruangan bersuhu dingin, bahkan di kendaraan pun dingin. Terlebih, minuman favoritnya juga harus dingin (ambil dari lemari es).

Semenjak tulisan ini dibuat, umurnya sudah lima tahun. Pertumbuhan badannya lebih dari anak seusianya (kira-kira sepantaran dengan anak kelas 1 SD). Sangat senang berbicara, mudah bergaul walau kepada orang yang baru dikenal. Berbeda dengan saya dan adik pertama saya, karakternya sungguh mudah bersosialisasi dengan orang di sekitarnya. Itulah adikku yang bungsu, Saddam Abrar Arafah.

Teruskan perjuanganmu, dik!

Alif Leo Ariella: Anak Tengah, Jarang Marah

Posted on Updated on

Jujur saja, di keluarga saya, rata-rata semua memiliki tempramen tinggi alias mudah marah. Tetapi berbeda dengan anak tengah yang satu ini, namanya Alif, biasa dipanggil di dalam keluarga kita dengan sebutan ‘Aa’ atau ‘Adi’ (jauh benget sama namanya ya?). Nama panggilan itu saya berikan ketika usianya menginjak kurang lebih 6 bulan. Saat itu, Adi tidak merangkak, melainkan ngesot. Ya, seperti suster di film horor itu lah, bedanya, pemerannya ini bayi.

Saat Adi lahir, usia saya sepuluh tahun. Memang jarak usia anak pertama, kedua, dan ketiga cukup jauh. Anak kedua sampai ketiga berjarak 9 tahun. Berarti, berapa jarak anak pertama dengan anak ketiga? Hitung sendiri! Hehe…

006-compressed

Adi lahir pada tahun 2000, tapi saya lupa tepatnya kapan. Dulu saya orangnya iseng, sampai-sampai adik sendiri pun dijahili. Pernah pada suatu hari, Adi terjatuh gara-gara saya dan bibirnya berdarah, padahal usianya baru 2 tahun. Saya tidak habis pikir saat itu, tega-teganya saya menjahili adik sendiri. Tidak hanya itu, saya pun tega membentak Adi ketika dia berusia 6 tahun, saat itu, dia tidak mau belajar. Saya yang sedang mengajarkannya malah memarahinya. Aneh, anak usia segitu mana ngerti kesalahannya. Mungki sebab itu juga, dia enggan belajar hitungan maupun ilmu umum lainnya. Itulah kebodohan saya.

Pernah pada suatu hari, dirinya memaksa Papah untuk membelikannya kaset Play Station baru. Padahal, saat itu kaset PS yang lama masih berfungsi dengan baik. Karena Papah sedang banyak pikiran, akhirnya dimarahilah Adi. Saya yang sempat menyaksikannya saat itu tidak tega. Tapi apa yang bisa saya perbuat, malah saya ikut dimarahi Papah nantinya.

Walau rata-rata keluarganya pemarah, tetapi dia tetap seorang penyayang. Itulah keistimewaannya. Dalam menemani adiknya yang bungsu, Saddam, dia sungguh hebat dalam mengontrol emosi maupun merayu adiknya ketika dia marah.

Beruntung, Adi berada di lingkungan keluarga yang religius. Meski dia tidak mau belajar ilmu umum, tetapi dia masih punya kemauan untuk mempelajari ilmu agama. Alhamdulillah. Saat ini Adi sedang menempuh pendidikan non-formal di pesantran dengan belajar mengaji. Semoga adikku Alif alias Adi senantiasa menjadi orang yang bermanfaat dengan ilmu agama yang dimilikinya. Amiiin.

Nandang Juanda: Papah yang Tak Kenal Lelah

Posted on Updated on

Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW. yang intinya bahwa muliakanlah ibumu (Rasulullah menegaskannya sampai tiga kali) lalu ayahmu.

Orang berikutnya yang sangat berjasa dalam hidup saya ialah Papah. Papah merupakan panggilan bagi saya dan adik saya untuk ayah saya. Jika ditanya mengapa saya orangnya nekat, ini mungkin karena faktor genetika dari Papah. Hehe…

IMG0006A

Entah kenapa, beliau senang dipanggil ‘Papah’. Sempat kepikiran, mungkin karena dulunya beliau gemar sesuatu yang kebarat-baratan. Ya, seperti nama saya, Ivan Antonia (artinya orang cerdas yang diberkahi tuhan).

Sejak tahu nama saya itu mengandung harapan Papah yang sangat besar. Saya merasa telah mengecewakan beliau. Jujur, secara pribadi saya menilai diri sendiri, saya merasa sangat kurang dalam ilmu matematika. Itulah sebabnya saya lebih memilih kuliah di jurusan yang jarang muncul matematika.

Beliau lahir pada tahun 1960 di kota Tasikmalaya (dulu masih kabupaten). Dibesarkan ditengah keluarga yang memiliki tingkat ekonomi rendah tidak membuat beliau patah semangat. Adiknya yang berjumlah tujuh semuanya bersekolah. Memang, rezeki itu selalu terbuka bagi yang senantiasa berusaha.

Papah termasuk orang yang tegas dan tanggap. Karena prinsip hidupnya itulah saya seringkali ditegur agar lebih peka dalam mengerjakan segala sesuatu. Tidak jarang hal tersebut membuat saya jenuh. Tetapi, saya yakin bahwa hal itu merupakan pengejawantahan (bentuk / manifestasi) dari kasih sayang beliau yang ingin berbuat terbaik bagi anaknya.

Pekerjaan beliau sewaktu muda dulu ialah menjadi pegawai hotel, kemudian beralih menjadi pegawai negeri sipil di usianya yang ke 23 tahun dan sampai saat ini beliau telah berusia 54 tahun.

Terakhir, saya sempat mengecewakan beliau dengan belum diterimanya saya menjadi PNS saat November 2014 kemarin. Sebenarnya, banyak hal yang saya telah perbuat dan hasilnya kurang memuaskan beliau. Entah kapan saya bisa membahagiakan beliau dengan prestasi yang saya ukir. Saya akan tetap berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi Islam, keluarga, dan masyarakat.

Terima kasih banyak, Pah. Jasamu dalam menjadi tulang punggung keluarga takkan pernah sirna.

Cucum Sumarni: Ibu Pengusaha, Berjuta Upaya

Posted on Updated on

Jika ditanya siapakah wanita yang paling berjasa dalam hidup saya, akan saya jawab, “Ibu!”

Beliaulah ibu dari seorang anak yang kurang berprestasi, ibu yang melahirkanku. Anehnya, meski beliau tahu bahwa prestasi saya tidak segemilang anak lain yang sepantaran, tetapi beliau tetap mengarahkan saya untuk terus maju berkembang.

Ibu saya bernama Cucum Sumarni. Beliau merupakan anak kedua dari suami pertama nenek (suami pertama nenek meninggal dan mempunyai satu orang anak). Anak pertama dari suami pertama nenek ialah Uwa* Amsor, sedangkan anak pertama dari suami kedua nenek ialah Uwa* Dasep.

Ibu2

Beliau lahir dan dibesarkan di Cianjur, tepatnya di daerah Ciranjang pada tahun 1966. Keluarga ibu termasuk keluarga yang sangat religius. Itu dikarenakan nenek yang juga seorang guru ngaji sangat menekankan aqidah Islam pada anak-anaknya.

Masih ingat di benak saya, ketika ibu berucap, “Ibu tidak berharap kamu jadi anak yang pintar, tetapi ibu berharap agar kamu menjadi anak yang sholeh.”

Ibu merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara (dari suami kedua nenek). Oleh sebab itulah, beliau dituntut untuk berpikiran lebih dewasa untuk menghidupi keenam adiknya yang saat itu masih bersekolah. Berdagang dan bersekolah merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan beliau sewaktu kecil. Setiap pergi ke sekolah, ibu membawa barang (biasanya berupa makanan) untuk diperjual-belikan kepada teman-teman sekolahnya.

Jiwa pengusaha yang ibu miliki membuat motto hidup ibu tak kenal putus asa. Bahkan sampai sekarang ibu masih memiliki usahanya sendiri, yakni menyewakan rumah dan menjual obat herbal.

Ini baru sekilas tentang ibu, masih ada cerita lainnya tentang ibu yang insya Allah akan menyusul. Terima kasih dan sampai jumpa di artikel berikutnya!