Sohib

Bara Gunawan: Semangat Juang, bagai Karang

Posted on Updated on

Salah satu sohib saya, Bara Gunawan, memang sangat hebat. Pasalnya, dari dialah saya belajar hakikat perjuangan kehidupan. Mam’s Bar termasuk salah seorang dari ‘Underdog’-nya angkatan pertama SMPIT RJ. Yaa… saya juga termasuk underdog itu. Haha…

Bara
Sebelum ikut audisi boyband. Haaalaah…

Soal Underdog mungkin sudah pernah dibahas, tapi ya diulas lagi sedikit lah. Underdog (biasa disebut kelompok Genoa atau apalah itu namanya) ialah kumpulan anak laik-laki angkatan pertama SMPIT RJ Cilegon yang sulit dapat peringkat sepuluh besar (bahkan sampai lulus SMP belum pernah dapet T_T). Namun, inilah keunikan anggotanya, masing-masing mempunyai keistimewaan tersendiri.

THE LEGEND OF MAM’S BAR

Mam's Bar
‘M’ untuk Mam’s Bar, dan ‘W’ untuk Wambo

Kembali lagi ke topik pembicaraan. Bara dibesarkan dari keluarga yang sangat sederhana. Pertama saya ketahui, dia tinggal di PCI, sekarang sudah pindah ke Serang Barat. Sewaktu kami masih duduk di bangku SMP, ibunya pernah berdagang karedok dan pecel. Kami sering membelinya ketika bosan dengan menu makan siang sekolah. Itulah asal usul penyebutan nama Mam’s Bar (artinya: Mamahnya Bara). Sungguh terlihat perjuangannya Mam’s Bar dalam berdikari mewujudkan ketahanan pangan nasional (eh?!).

Perjuangan Bara yang sangat kentara ialah ketika dia berusaha untuk membayar perkuliahannya sendiri dari hasil menjadi (maaf) kuli angkut. Inilah yang membuat saya semakin tersentuh dan bersyukur bahwa pengorbanan seseorang di masa lalu ialah untuk kemudahan di masa kini atau nanti. Sekarang, Bara sudah menikmati hasilnya dan masih tetap rendah hati dan berusaha keras dalam bekerja. Tetap semangat, Bar!

Cahyono: Meraih Hidayah, Menjadi Pendakwah

Posted on Updated on

Saat saya teringat dengan sosok sohib yang satu ini, saya merasa keilmuan, semangat, maupun sikap saya masih sangat jauh darinya. Saya memposisikan diri sebagai orang yang awam ketika berhadapan dengannya. Bukan karena Mang Ono (sapaan saya saat di DKM) orang yang bergelimang harta, bukan juga karena keturunan ajengan (ulama), tetapi karena rasa penasarannya yang mendalam untuk terus belajar mengenai Islam.

Perenggangan jarak keilmuan saya dengan Mang Ono terjadi ketika beliau mulai aktif menjadi takmir DKM Unsil. Memang tidak secara langsung beliau mendapat perubahan, namun dengan skenario yang ‘indah’ dari Allah, Mang Ono akhirnya tinggal di asrama takmir DKM Al-Muhajirin Unsil.

DSC03560
Dari kanan ke kiri; Mang Ono, Ali Sopan, dan saya

Tidak etis rasanya jika saya menceritakan bagaimana Mang Ono bisa pindah ke DKM. Pada tahun pertama kuliahnya, Mang Ono jarang sekali pergi ke masjid, namun dengan tuntunan Allah, Mang Ono semakin aktif ke masjid. Bahkan, prestasi yang beliau torehkan tidak hanya berada di masjid, tetapi juga di organisasi kampus maupun luar kampus. Masya Allah.

???????????????????????????????
Mang Ono saat mengajar anak-anak SD di masjid kampus

Kini, Mang Ono menjadi ‘tangan kanan’ MUI di kabupaten Cilacap. Beliau sering melakukan wisata dakwah ke berbagai daerah untuk saling mengingatkan pada masyarakat di Indonesia bahwa Islam jangan dipisahkan dari kehidupan sehari-hari kita.

Itulah sepenggal kisah Mang Ono yang berliku-liku. Semoga beliau selalu berada pada jalan amar ma’ruf nahyi munkar. Aaamiin.

Rizky Ramadhan: Geliat Semangat, Tingkatkan Taat

Posted on

Umurnya setahun di bawah saya, mengambil kuliah jurusan pendidikan jasmani, kesehatan dan rekreasi disingkat PJKR. Kami satu universitas di salah satu kampus swasta yang kini telah menjadi negeri di daerah Tasikmalaya.

Memang, dari awal sudah sangat terlihat tekad ‘Mang Iki’ (begitu panggilan akrab kami saat di DKM) begitu kuat untuk memakmurkan masjid. Mang Iki rajin bersih-bersih di masjid, sama rajinnya dengan A Tatang Munandar, salah satu senior kami sewaktu di DKM Al-Muhajirin Unsil.

DSC06869
Mang Iki saat berkunjung ke sebuah tempat wisata di Cianjur

Pada awal tahun, pemilik nama Rizky Muhammad Ramadhan ini tinggal di sebuah kostan yang jaraknya tidak jauh dari masjid kampus. Berbagai aktifitas remaja masjid telah dilaluinya, hingga pada suatu kesempatan, Mang Iki diamanahkan wewenang sebagai ketua takmir di DKM tersebut.

“Tapi saya belum punya banyak ilmu untuk memimpin, A. Tolong dengan sangat bantuan serta kerjasamanya!” Ucapnya ketika diberi amanah yang dirasa begitu besar.

Jujur saya, kandidat ketua takmir DKM yang digembor-gemborkan saat itu berjumlah tiga orang; Mang Iki, Mang Ono (Cahyono), dan saya. Namun, dengan pertimbangan dari orang tua, saya melepaskan diri dari ‘bursa’ calon ketua takmir DKM. Amanah itu sangat berat dilaksanakan.

Jiwa mudanya Mang Iki membakar semangat para Mujahid DKM Unsil. Meski kami kekurangan anggota, namun semangat kami untuk memakmurkan masjid di manapun tidak pernah surut.

Alhamdulillah, sekarang Mang Iki sudah lulus dan sudah mengajar sebagai seorang Guru olahraga di salah satu sekolah negeri di Cikampek, Jawa Barat. Semoga usahanya selalu dalam perlindungan dan keberkahan Allah SWT. Aamiin.

Arli Aulia: Cerita Pengembara, Jelajahi Tasikmalaya

Posted on

Usianya tidak terpaut jauh dengan saya, namun perilakunya sungguh unik. Pertama kali melihat dari parasnya mungkin sohib akan menilai bahwa beliau garang dan selalu tegas, tetapi itu semua akan sirna setelah sohib mengetahui karakter asli dari pemilik nama lengkap Arli Aulia Rahman ini.

Terkadang, dalam situasi tertekan atau terhimpit, pa Arli (begitu kami keluarga di DKM Unsil memanggilnya) memang bersikap tegas dan emosional. Seiring dengan lamanya kami berkumpul, itu sudah menjadi hal yang biasa bagi  kami keluarga di DKM Unsil. Malah, pa Arli lebih banyak bercandanya ketimbang marahnya.

10072011(014)
Dari kiri-kanan; A Tatang, Pa Arli, dan saya

Hal yang membuat saya dan keluarga DKM dekat dengan beliau ialah karakternya yang mampu berbaur dengan suasana. Beliau juga mampu menempatkan diri ketika saatnya bercanda maupun serius. Bahan candaannya pun sangat menggelitik. Penuh ide dan gelak tawa. Itulah pa Arli.

Sewaktu kuliah, di sela kesibukanya aktif di DKM Unsil , beliau juga turut aktif pada himpunan mahasiswa Biologi Unsil dan Pramuka Unsil. Tidak hanya itu, untuk menambah penghasilan, selain mengajar di sebuah madrasah Aliyah swasta di kabupaen Tasikmalaya, beliau turut membuka les private dan usaha sampaingan lainnya (seperti beternak ikan lele).

Kebiasaan pa Arli lainnya ialah membaca komik. Dulu sedang boomingnya serial Naruto selalu beliau ikuti perkembangannya. Kesamaan hobi itulah yang membuat saya dan pa Arli semakin terlihat konyol dan unik.

Satu hal lagi yang hampir luput. Peranan motor ‘Tiger Fit’ alias Supra-fit tahun 2006 yang sangaaat irit. Sampai-sampai mampu menempuh jarak 60 km/liter (premium). Padahal medannya mendaki dan berlumpur. Sebelum kepulangannnya ke Samarinda, Tiger Fit ‘dikembalikan’ kepada pemilik ‘asli’-nya. Salute for Tiger Fit! You did such a hard work!

Chambia Imami: Watak Kartunis, Pemikiran Optimis

Posted on Updated on

Chamas, Chambut, Charm, Chess, Chambing ialah julukan-julukan yang didapatnya sewaktu masih berada di pondok pesantren. Saya hampir lupa membuat biografi orang aneh yang satu ini. Padahal, dia sohib jiddan saya. Namun, saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk membuat biografinya. Siapa tahu masa depannya jadi menteri kesehatan bisa ajak-ajak saya. Hehe…

Nama lengkapnya Chambia Imami Huda. Katanya, Chambia dibaca “Hambia” yang artinya hamba. Imami berarti pemimpin. Sedangkan Huda berarti petunjuk. Garis besarnya, arti namanya adalah Pemimpin (yang meng-hamba-kan diri pada Allah) yang memberi petunjuk.

Gaya alay tahun 2009 setelah Masehi. (Chamas di kanan)
Gaya alay tahun 2009 setelah Masehi. (Chamas di kanan)

Alasan kedekatan saya dengan Chamas (sapaan akrab) ialah karena hobi kami yang sama. Mulai dari menggambar, membaca komik, sampai bermain game. Bahkan, kami-bersama Fahmi ‘Much’ (nanti saya ceritakan) pernah kabur dari pesantren hanya untuk bermain game online. Bandel sangat, bukan?

Selain hobi, kami merupakan anak baru di lingkungan pesantren SMA Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya. Di sana, ada beberapa anak SMP (angkatan kami) yang meneruskan pendidikannya ‘masih’ di pesantren tersebut. Contohnya; Azmi Imaduddin aka Cengos, Robby Maududdy aka Iwik, Imam Fahmi aka Ableh/Franky dan masih banyak yang lainnya.

Kemampuannya tidak hanya di dalam bidang menggambar, tetapi juga di bidang break dance. Dia menjadi pelopor latihan break dance secara sembunyi-sembunyi selepas shalat isya ketika yang lain sedang belajar untuk keesokan harinya. Sedangkan saya? Saya membuat klub menggambar komik secara sembunyi-sembunyi juga. Jiaaah… sama aja!

Momentum yang paling saya ingat ialah ketika jam istirahat pertama, kami berlarian mendekati ‘akhi’ yang berjualan PISJO (Pisang Ijo, makanan khas Makassar). Terbayang keanehan kami yang seperti kartunis sejati, berkelakuan aneh yang kurang cocok dilihat anak kecil. Tetapi, itulah masa SMA, masa yang mengesankan.

Ridwan Ismaya: Hobi Sama, Sering Bertiga

Posted on Updated on

Masih membahas kisah masa kecil Ivan yang kurang menantang, tetapi memiliki kesan tersendiri. Sekarang, kita semakin beranjak ke Barat di depan terminal pelabuhan Merak, tempat di mana sohib saya, Ridwan Ismaya Maulana, dahulu tinggal.

Sudah menjadi kebiasaan keluarga saya untuk memperluas tali silaturahim kepada sesama orangtua murid, baik itu ketika saya masih duduk di bangku TK sampai SMP. Lho, kok SMA dan kuliah nggak? Alasan pertama, jarang ada rapat dengan orangtua murid. Alasan selanjutnya, tempat bersekolah dan kuliah sudah beda provinsi dengan jarak kurang lebih 250 kilometer (Cilegon-Tasikmalaya) dari tempat tinggal saya. Hehe…

Ibu saya memiliki hubungan kekerabatan yang sangat kuat dengan Ibu Ridwan. Sebab itulah, saya sering bermain dengan Ridwan. Waktu bermain yang cukup untuk saling mengetahui hobi masing-masing yang ternyata sama! Kami menyukai mainan robot maupun kamen rider (dulu disebut ksatria baja hitam)!

Foto Ridwan sewaktu masih kuliah.
Foto Ridwan sewaktu masih kuliah.

Semakin bertambah usia, kami mendapat teman baru sewaktu menginjak bangku kelas empat (kalau tidak salah). Muhammad Ikhsan namanya, dia pindah karena Ayahnya bekerja. Sejak kedatangannya, kami sering bermain bersama layaknya sebuah ‘geng’, tiga be-geng (ngarang, hehe).

Ridwan sangat pintar dalam pelajaran IPA. Dia juga memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup. Terus terang, sewaktu kelas lima, saya pernah diberitahu jawaban oleh Ridwan. Saat itu, Bu Lita, wali kelas kami, hendak membagi kelas kursus bahasa Inggris ke dalam dua kelas. Kelas pertama untuk yang nilainya di atas 60, sedangkan kelas ke dua untuk yang nilainya di bawah 60. Tidak disangka, saya mendapat nilai 60 yang berarti masuk kelas ‘anak-anak pintar bahasa Inggris’. Ini nyontek atau rezeki ya? Haha…

Masuk kelas unggulan, bukannya enak-enakan malah lebih sulit materinya dari kelas sebelah. Alhamdulillah saya bisa mengikutinya meski kurang baik. Hehe… Mungkin dari sini saya bisa petik hikmah bahwa sesuatu yang kurang baik tidak akan pernah menghasilkan yang baik.

Menginjak kelulusan SD, saya sama sekali tidak mendapat foto bersama untuk kenang-kenangan. Jadi wajar jika saya sudah lupa hampir semua teman yang saya pernah kenal ketika SD dahulu. Ridwan pindah dari Merak menuju Garut (entah ketika lulus SD atau SMP). Akhirnyaaa… Ridwan bisa bahasa Sunda. Bagaimana dengan Ivan? Baru belajar aktif berbahasa Sunda ketika memasuki SMA. Haha…

Tetap semangat menembus badai yang menerpa dan terus berusaha. Untuk sohib saya, Ridwan Ismaya Maulana. Semoga kesuksesan bersamamu.

Yasir Arafat: Teman Lama, Berujung Duka

Posted on

Yah… Inilah kisah yang paling jauh dari kesan menyenangkan bagi saya. Awal perjumpaan tidak seindah awal pertemuan. Apapun yang datang pada kita, pasti harus pulang pada asalnya. Itulah kodrat makhluk ciptaan-Nya.

Ketika itu, tahun 1995, saya mulai bersekolah di Taman Kanak-Kanak (TK) Bina Athfal. Saat itu Banten masih bergabung dengan Jawa Barat, Cilegon belum menjadi kota, dan Kecamatan Gerogol belum ada. Saat itulah ibu saya berkata,

“Nanti jika kamu bertemu dengan teman baru, ajak kenalan duluan! Tanya siapa namanya, dari mana asalnya, di mana alamatnya. Harus berani!”

Perkataan itu masih terngiang di telinga saya (bahkan sampai saat ini). Dahsyatnya ucapat seorang ibu.

Lalu, saya diantar ke sekolah yang jaraknya tidak terpaut jauh, namun harus menyeberangi jalanan protokol agar dapat sampai ke sana. Zaman saya TK, kendaraan pribadi belum sepadat kini, angkutan umum masih jadi primadona transportasi masyarakat. Bahkan, presidennya pun masih Soeharto. Ya… saya adalah anak yang lahir pada rezim Orba (orde Baru).

Hanya ini foto Yasir yang saya miliki ketika TK dahulu.
Hanya ini foto Yasir (tengah) yang saya miliki ketika TK dahulu.

Sesampainya di sekolah, saya masih menunggu bel masuk berbunyi. Ketika ibu saya bergabung dengan ibu-ibu lainnya yang sedang menunggu anaknya, maka saya mulai dekati anak yang berdiam diri merenungi nasib di dekat pagar depan kelas.

Ku hampiri orangnya, lalu ku tanya,

“Eh, kenalan dong… Nama saya Ivan. Kamu siapa?”

Dia pun menjawab,

“Yasir Arafat”

Lalu kami pun bersalaman layaknya direktur yang menyepakati MOU perusahaan. Saat itu merupakan momen yang elok untuk dikenang. Di satu sisi, saya telah berhasil melawan rasa malu saya untuk bertanya. Di sisi lain, saya menambah tali silaturahim dengan orang yang baru saya kenal.

Awal pertemanan saya dengan Yasir, kami bak sahabat yang selalu pergi ke mana-mana berduaan. Itu dikarenakan alamat rumah (sementara/kontrakan) Yasir tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Ayahnya merupakan seorang PNS di kantor Imigrasi, dekat restoran Dana Raya. Sementara Yasir merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Dialah satu-satunya anak laki-laki di antara saudara kandungnya.

Ternyata, lama usia pertemanan tidak menguatkan tali persaudaraan kami. Malah semakin merenggang, hingga akhirnya saya ‘harus’ bermusuhan dengannya di kelas tiga SD. Telah banyak perkelahian yang kami lalui sebelumnya, namun saat-saat terakhir menjelang kepergiannya, saya malah belum bisa menyambung hubungan pertemanan kami.

Hingga pada akhirnya, Yasir beserta keluarganya pergi ke kampung halamannya, Aceh, sebab mutasi kerja ayahnya. Selang beberapa tahun kemudian, tepatnya tanggal 26 Desember 2004, terjadi tsunami besar di Aceh. Teringat nasib temanku, bagaimana kabarnya di sana. Setelah informasi menyebar dari kantor Imigrasi dekat rumah, ternyata semua anggota keluarganya dinyatakan hilang, kecuali kakak sulungnya yang sedang menempuh pendidikan di pulau Jawa.

 

Itulah saat kami berpisah… untuk selamanya… Semoga tenang di alam sana, Yasir.