Kuliah

Cahyono: Meraih Hidayah, Menjadi Pendakwah

Posted on Updated on

Saat saya teringat dengan sosok sohib yang satu ini, saya merasa keilmuan, semangat, maupun sikap saya masih sangat jauh darinya. Saya memposisikan diri sebagai orang yang awam ketika berhadapan dengannya. Bukan karena Mang Ono (sapaan saya saat di DKM) orang yang bergelimang harta, bukan juga karena keturunan ajengan (ulama), tetapi karena rasa penasarannya yang mendalam untuk terus belajar mengenai Islam.

Perenggangan jarak keilmuan saya dengan Mang Ono terjadi ketika beliau mulai aktif menjadi takmir DKM Unsil. Memang tidak secara langsung beliau mendapat perubahan, namun dengan skenario yang ‘indah’ dari Allah, Mang Ono akhirnya tinggal di asrama takmir DKM Al-Muhajirin Unsil.

DSC03560
Dari kanan ke kiri; Mang Ono, Ali Sopan, dan saya

Tidak etis rasanya jika saya menceritakan bagaimana Mang Ono bisa pindah ke DKM. Pada tahun pertama kuliahnya, Mang Ono jarang sekali pergi ke masjid, namun dengan tuntunan Allah, Mang Ono semakin aktif ke masjid. Bahkan, prestasi yang beliau torehkan tidak hanya berada di masjid, tetapi juga di organisasi kampus maupun luar kampus. Masya Allah.

???????????????????????????????
Mang Ono saat mengajar anak-anak SD di masjid kampus

Kini, Mang Ono menjadi ‘tangan kanan’ MUI di kabupaten Cilacap. Beliau sering melakukan wisata dakwah ke berbagai daerah untuk saling mengingatkan pada masyarakat di Indonesia bahwa Islam jangan dipisahkan dari kehidupan sehari-hari kita.

Itulah sepenggal kisah Mang Ono yang berliku-liku. Semoga beliau selalu berada pada jalan amar ma’ruf nahyi munkar. Aaamiin.

Rizky Ramadhan: Geliat Semangat, Tingkatkan Taat

Posted on

Umurnya setahun di bawah saya, mengambil kuliah jurusan pendidikan jasmani, kesehatan dan rekreasi disingkat PJKR. Kami satu universitas di salah satu kampus swasta yang kini telah menjadi negeri di daerah Tasikmalaya.

Memang, dari awal sudah sangat terlihat tekad ‘Mang Iki’ (begitu panggilan akrab kami saat di DKM) begitu kuat untuk memakmurkan masjid. Mang Iki rajin bersih-bersih di masjid, sama rajinnya dengan A Tatang Munandar, salah satu senior kami sewaktu di DKM Al-Muhajirin Unsil.

DSC06869
Mang Iki saat berkunjung ke sebuah tempat wisata di Cianjur

Pada awal tahun, pemilik nama Rizky Muhammad Ramadhan ini tinggal di sebuah kostan yang jaraknya tidak jauh dari masjid kampus. Berbagai aktifitas remaja masjid telah dilaluinya, hingga pada suatu kesempatan, Mang Iki diamanahkan wewenang sebagai ketua takmir di DKM tersebut.

“Tapi saya belum punya banyak ilmu untuk memimpin, A. Tolong dengan sangat bantuan serta kerjasamanya!” Ucapnya ketika diberi amanah yang dirasa begitu besar.

Jujur saya, kandidat ketua takmir DKM yang digembor-gemborkan saat itu berjumlah tiga orang; Mang Iki, Mang Ono (Cahyono), dan saya. Namun, dengan pertimbangan dari orang tua, saya melepaskan diri dari ‘bursa’ calon ketua takmir DKM. Amanah itu sangat berat dilaksanakan.

Jiwa mudanya Mang Iki membakar semangat para Mujahid DKM Unsil. Meski kami kekurangan anggota, namun semangat kami untuk memakmurkan masjid di manapun tidak pernah surut.

Alhamdulillah, sekarang Mang Iki sudah lulus dan sudah mengajar sebagai seorang Guru olahraga di salah satu sekolah negeri di Cikampek, Jawa Barat. Semoga usahanya selalu dalam perlindungan dan keberkahan Allah SWT. Aamiin.

Arli Aulia: Cerita Pengembara, Jelajahi Tasikmalaya

Posted on

Usianya tidak terpaut jauh dengan saya, namun perilakunya sungguh unik. Pertama kali melihat dari parasnya mungkin sohib akan menilai bahwa beliau garang dan selalu tegas, tetapi itu semua akan sirna setelah sohib mengetahui karakter asli dari pemilik nama lengkap Arli Aulia Rahman ini.

Terkadang, dalam situasi tertekan atau terhimpit, pa Arli (begitu kami keluarga di DKM Unsil memanggilnya) memang bersikap tegas dan emosional. Seiring dengan lamanya kami berkumpul, itu sudah menjadi hal yang biasa bagi  kami keluarga di DKM Unsil. Malah, pa Arli lebih banyak bercandanya ketimbang marahnya.

10072011(014)
Dari kiri-kanan; A Tatang, Pa Arli, dan saya

Hal yang membuat saya dan keluarga DKM dekat dengan beliau ialah karakternya yang mampu berbaur dengan suasana. Beliau juga mampu menempatkan diri ketika saatnya bercanda maupun serius. Bahan candaannya pun sangat menggelitik. Penuh ide dan gelak tawa. Itulah pa Arli.

Sewaktu kuliah, di sela kesibukanya aktif di DKM Unsil , beliau juga turut aktif pada himpunan mahasiswa Biologi Unsil dan Pramuka Unsil. Tidak hanya itu, untuk menambah penghasilan, selain mengajar di sebuah madrasah Aliyah swasta di kabupaen Tasikmalaya, beliau turut membuka les private dan usaha sampaingan lainnya (seperti beternak ikan lele).

Kebiasaan pa Arli lainnya ialah membaca komik. Dulu sedang boomingnya serial Naruto selalu beliau ikuti perkembangannya. Kesamaan hobi itulah yang membuat saya dan pa Arli semakin terlihat konyol dan unik.

Satu hal lagi yang hampir luput. Peranan motor ‘Tiger Fit’ alias Supra-fit tahun 2006 yang sangaaat irit. Sampai-sampai mampu menempuh jarak 60 km/liter (premium). Padahal medannya mendaki dan berlumpur. Sebelum kepulangannnya ke Samarinda, Tiger Fit ‘dikembalikan’ kepada pemilik ‘asli’-nya. Salute for Tiger Fit! You did such a hard work!

Apipudin: Sederhana, namun Terencana

Posted on Updated on

Sekilas, memang ada yang istimewa dari sohib saya. Dia mempunyai keunikan yang orang lain tidak miliki. Ya, sohib saya ini supel, mudah bergaul dan mudah dekat dengan orang sekitarnya. Setidaknya itulah pandangan saya untuknya.

Rumahnya terletak di Panumbangan, Ciamis. Salah satu tempat terekstrim yang saya jumpa. Dengan berbagai macam kuliner khas yang menggoda hati. Hehe… Lumayan, di sini banyak sekali barang dagangan yang murah meriah untuk memanjakan perut kita.

Terkadang, bisa berubah juga...
Terkadang, bisa berubah juga…

Saya tidak pernah menyangka bisa berteman sedekat itu dengan Apip. Mungkin karena saya tidak menyadari bahwa kegemaran kita sama, game dan komik. Haha…

Soal game, jangan pernah anggap enteng sohib ane yang satu ini. Bahkan saya pun belum mampu untuk mengalahkannya, kecuali pada game yang dia jarang atau baru mainkan. Hebat kan saya?

Penyusunan skripsi ialah waktu di mana kami semakin dekat. Bukannya saling bekerja sama memotivasi, kami malah saling ketakutan dan seolah-olah sudah siap sedia dengan apa yang akan terjadi ketika sidang skripsi.

Dari awal penyusunan, kami saling berdiskusi tentang apa yang telah kami baca dan kami tanya dari orang lain. Jujur, pada saat penyusunan skripsi, saya termasuk mahasiswa yang berleha-leha dalam mengerjakannya. Sehingga, wajar saja saya telat wisuda dan harus rela melihat teman seangkatan yang sudah lulus lebih dahulu. Heleeeeh…

Apip merupakan satu dari sekian sohib saya yang dekat karena game. Dilihat dari semangatnya, memang dia punya hasrat yang luar biasa untuk menang dari siapapun.

Itulah Apip, sohib yang berkemauan keras untuk maju. Belum pernah saya mendengar kata ‘melemahkan’ dari dirinya. Ganbatte, Apip!