SD

Ridwan Ismaya: Hobi Sama, Sering Bertiga

Posted on Updated on

Masih membahas kisah masa kecil Ivan yang kurang menantang, tetapi memiliki kesan tersendiri. Sekarang, kita semakin beranjak ke Barat di depan terminal pelabuhan Merak, tempat di mana sohib saya, Ridwan Ismaya Maulana, dahulu tinggal.

Sudah menjadi kebiasaan keluarga saya untuk memperluas tali silaturahim kepada sesama orangtua murid, baik itu ketika saya masih duduk di bangku TK sampai SMP. Lho, kok SMA dan kuliah nggak? Alasan pertama, jarang ada rapat dengan orangtua murid. Alasan selanjutnya, tempat bersekolah dan kuliah sudah beda provinsi dengan jarak kurang lebih 250 kilometer (Cilegon-Tasikmalaya) dari tempat tinggal saya. Hehe…

Ibu saya memiliki hubungan kekerabatan yang sangat kuat dengan Ibu Ridwan. Sebab itulah, saya sering bermain dengan Ridwan. Waktu bermain yang cukup untuk saling mengetahui hobi masing-masing yang ternyata sama! Kami menyukai mainan robot maupun kamen rider (dulu disebut ksatria baja hitam)!

Foto Ridwan sewaktu masih kuliah.
Foto Ridwan sewaktu masih kuliah.

Semakin bertambah usia, kami mendapat teman baru sewaktu menginjak bangku kelas empat (kalau tidak salah). Muhammad Ikhsan namanya, dia pindah karena Ayahnya bekerja. Sejak kedatangannya, kami sering bermain bersama layaknya sebuah ‘geng’, tiga be-geng (ngarang, hehe).

Ridwan sangat pintar dalam pelajaran IPA. Dia juga memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup. Terus terang, sewaktu kelas lima, saya pernah diberitahu jawaban oleh Ridwan. Saat itu, Bu Lita, wali kelas kami, hendak membagi kelas kursus bahasa Inggris ke dalam dua kelas. Kelas pertama untuk yang nilainya di atas 60, sedangkan kelas ke dua untuk yang nilainya di bawah 60. Tidak disangka, saya mendapat nilai 60 yang berarti masuk kelas ‘anak-anak pintar bahasa Inggris’. Ini nyontek atau rezeki ya? Haha…

Masuk kelas unggulan, bukannya enak-enakan malah lebih sulit materinya dari kelas sebelah. Alhamdulillah saya bisa mengikutinya meski kurang baik. Hehe… Mungkin dari sini saya bisa petik hikmah bahwa sesuatu yang kurang baik tidak akan pernah menghasilkan yang baik.

Menginjak kelulusan SD, saya sama sekali tidak mendapat foto bersama untuk kenang-kenangan. Jadi wajar jika saya sudah lupa hampir semua teman yang saya pernah kenal ketika SD dahulu. Ridwan pindah dari Merak menuju Garut (entah ketika lulus SD atau SMP). Akhirnyaaa… Ridwan bisa bahasa Sunda. Bagaimana dengan Ivan? Baru belajar aktif berbahasa Sunda ketika memasuki SMA. Haha…

Tetap semangat menembus badai yang menerpa dan terus berusaha. Untuk sohib saya, Ridwan Ismaya Maulana. Semoga kesuksesan bersamamu.

Yasir Arafat: Teman Lama, Berujung Duka

Posted on

Yah… Inilah kisah yang paling jauh dari kesan menyenangkan bagi saya. Awal perjumpaan tidak seindah awal pertemuan. Apapun yang datang pada kita, pasti harus pulang pada asalnya. Itulah kodrat makhluk ciptaan-Nya.

Ketika itu, tahun 1995, saya mulai bersekolah di Taman Kanak-Kanak (TK) Bina Athfal. Saat itu Banten masih bergabung dengan Jawa Barat, Cilegon belum menjadi kota, dan Kecamatan Gerogol belum ada. Saat itulah ibu saya berkata,

“Nanti jika kamu bertemu dengan teman baru, ajak kenalan duluan! Tanya siapa namanya, dari mana asalnya, di mana alamatnya. Harus berani!”

Perkataan itu masih terngiang di telinga saya (bahkan sampai saat ini). Dahsyatnya ucapat seorang ibu.

Lalu, saya diantar ke sekolah yang jaraknya tidak terpaut jauh, namun harus menyeberangi jalanan protokol agar dapat sampai ke sana. Zaman saya TK, kendaraan pribadi belum sepadat kini, angkutan umum masih jadi primadona transportasi masyarakat. Bahkan, presidennya pun masih Soeharto. Ya… saya adalah anak yang lahir pada rezim Orba (orde Baru).

Hanya ini foto Yasir yang saya miliki ketika TK dahulu.
Hanya ini foto Yasir (tengah) yang saya miliki ketika TK dahulu.

Sesampainya di sekolah, saya masih menunggu bel masuk berbunyi. Ketika ibu saya bergabung dengan ibu-ibu lainnya yang sedang menunggu anaknya, maka saya mulai dekati anak yang berdiam diri merenungi nasib di dekat pagar depan kelas.

Ku hampiri orangnya, lalu ku tanya,

“Eh, kenalan dong… Nama saya Ivan. Kamu siapa?”

Dia pun menjawab,

“Yasir Arafat”

Lalu kami pun bersalaman layaknya direktur yang menyepakati MOU perusahaan. Saat itu merupakan momen yang elok untuk dikenang. Di satu sisi, saya telah berhasil melawan rasa malu saya untuk bertanya. Di sisi lain, saya menambah tali silaturahim dengan orang yang baru saya kenal.

Awal pertemanan saya dengan Yasir, kami bak sahabat yang selalu pergi ke mana-mana berduaan. Itu dikarenakan alamat rumah (sementara/kontrakan) Yasir tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Ayahnya merupakan seorang PNS di kantor Imigrasi, dekat restoran Dana Raya. Sementara Yasir merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Dialah satu-satunya anak laki-laki di antara saudara kandungnya.

Ternyata, lama usia pertemanan tidak menguatkan tali persaudaraan kami. Malah semakin merenggang, hingga akhirnya saya ‘harus’ bermusuhan dengannya di kelas tiga SD. Telah banyak perkelahian yang kami lalui sebelumnya, namun saat-saat terakhir menjelang kepergiannya, saya malah belum bisa menyambung hubungan pertemanan kami.

Hingga pada akhirnya, Yasir beserta keluarganya pergi ke kampung halamannya, Aceh, sebab mutasi kerja ayahnya. Selang beberapa tahun kemudian, tepatnya tanggal 26 Desember 2004, terjadi tsunami besar di Aceh. Teringat nasib temanku, bagaimana kabarnya di sana. Setelah informasi menyebar dari kantor Imigrasi dekat rumah, ternyata semua anggota keluarganya dinyatakan hilang, kecuali kakak sulungnya yang sedang menempuh pendidikan di pulau Jawa.

 

Itulah saat kami berpisah… untuk selamanya… Semoga tenang di alam sana, Yasir.