SMA

Chambia Imami: Watak Kartunis, Pemikiran Optimis

Posted on Updated on

Chamas, Chambut, Charm, Chess, Chambing ialah julukan-julukan yang didapatnya sewaktu masih berada di pondok pesantren. Saya hampir lupa membuat biografi orang aneh yang satu ini. Padahal, dia sohib jiddan saya. Namun, saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk membuat biografinya. Siapa tahu masa depannya jadi menteri kesehatan bisa ajak-ajak saya. Hehe…

Nama lengkapnya Chambia Imami Huda. Katanya, Chambia dibaca “Hambia” yang artinya hamba. Imami berarti pemimpin. Sedangkan Huda berarti petunjuk. Garis besarnya, arti namanya adalah Pemimpin (yang meng-hamba-kan diri pada Allah) yang memberi petunjuk.

Gaya alay tahun 2009 setelah Masehi. (Chamas di kanan)
Gaya alay tahun 2009 setelah Masehi. (Chamas di kanan)

Alasan kedekatan saya dengan Chamas (sapaan akrab) ialah karena hobi kami yang sama. Mulai dari menggambar, membaca komik, sampai bermain game. Bahkan, kami-bersama Fahmi ‘Much’ (nanti saya ceritakan) pernah kabur dari pesantren hanya untuk bermain game online. Bandel sangat, bukan?

Selain hobi, kami merupakan anak baru di lingkungan pesantren SMA Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya. Di sana, ada beberapa anak SMP (angkatan kami) yang meneruskan pendidikannya ‘masih’ di pesantren tersebut. Contohnya; Azmi Imaduddin aka Cengos, Robby Maududdy aka Iwik, Imam Fahmi aka Ableh/Franky dan masih banyak yang lainnya.

Kemampuannya tidak hanya di dalam bidang menggambar, tetapi juga di bidang break dance. Dia menjadi pelopor latihan break dance secara sembunyi-sembunyi selepas shalat isya ketika yang lain sedang belajar untuk keesokan harinya. Sedangkan saya? Saya membuat klub menggambar komik secara sembunyi-sembunyi juga. Jiaaah… sama aja!

Momentum yang paling saya ingat ialah ketika jam istirahat pertama, kami berlarian mendekati ‘akhi’ yang berjualan PISJO (Pisang Ijo, makanan khas Makassar). Terbayang keanehan kami yang seperti kartunis sejati, berkelakuan aneh yang kurang cocok dilihat anak kecil. Tetapi, itulah masa SMA, masa yang mengesankan.

Robby Maududy: Sohib Kreatif, Penuh Inisiatif

Posted on

SMA Amanah Muhammadiyah ialah tempat saya bertemu dengan sesosok makhluk halus seorang pelajar yang juga teman sekelas saya, namanya Robby. Karena namanya terlalu keren, maka sohib-sohib di pesantren memanggilnya dengan sebutan ‘Iwik’ (Saya kurang tahu apa artinya, bahkan di KBBI pun tak ada).

Jika dilihat dari penampilan dan sikap, memang sekilas tidak ada istimewanya dari sohib ane yang satu ini. Tapi jika kita mengenalnya lebih jauh, maka kita akan temukan perbedaannya. Ya, Iwik memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi. Selain itu, dia juga tipe orang cerdas yang pantang menyerah. Sudah tahu kan, bagaimana jika orang cerdas nan pekerja keras bertindak? Hasilnya sungguh tak terduga dan menakjubkan.

Iwik dengan robot rakitannya.
Iwik dengan robot rakitannya.

Iwik mempunyai kecenderungan baik di bidang agama maupun di bidang sains. Oleh karena itu, seusai kelulusan SMA, dia melanjutkan kuliah di UPI Bandung. Pada saat itu, jurusan baru dibuka ialah IPSE (Saya kurang tahu jurusan apa pastinya). Menurut penuturan Iwik, IPSE kurang lebih sama seperti jurusan pendidikan sains internasional. Terlebih, sewaktu sidang skripsi, Iwik bercerita bahwa dia harus menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa penutur dalam menjelaskan isi skripsinya. Hebat lah ente, Wik!

Selain hal-hal yang di atas, Iwik juga cukup dekat dengan dunia musik. Dia sempat membuat grup band sewaktu di SMA. Hal lainnya yang lumayan aneh ialah kegemarannya dalam bermain game Counter Strike. Mungkin karena kita paksa ya? Haha… Sebagai refreshing di sela kegiatan yang padat, kami; 1) Saya, 2) Azmi/Cengos, 3) Ucok/Miftah, 4) Icung/Qisty, 5) Selfan, 6) Iwik/Robby, dan 7) Oyek/Nasirudin bermain game CS sampai puas. Yaaa… paling selama 3 jam-an lah. Tapi sekarang sudah tidak, karena dunia pekerjaan membuat kami kian sibuk.

Saat ini, Iwik sedang merintis usaha les/kursus sekolah robot yang didirikannya di Tasikmalaya. Harapannya agar generasi muda Indonesia tidak kalah bersaing dalam hal praktik membuat robot dengan negara lain. Sukses selalu, Wik!

Azmi Imaduddin: Tampak Polos, Tapi Cengos

Posted on Updated on

Dari judulnya sebenarnya sangat potensial menimblkan konflik antarumat beragama (Lebay mode). Ane sendiri belum tahu, bahasa dari mana ‘cengos’ itu sebenarnya, mungkin Sunda. Beberapa teman ane menyebutkan bahwa cengos itu bermakna tingkah yang tidak biasa, unik, membuat orang malu atau bahkan geli melihatnya.

Sohib ane yang satu ini merupakan pasukan jarak dekat di CS (Counter Strike). Hehe… Itu adalah permainan yang kami mainkan saat waktu senggang. Markas kami di rumah bung Cengos alias Azmi Imaduddin, yakni di perum Cisalak, Kota Tasikmalaya. Rumah ini sering kami jadikan tempat berkumpul alumni SMA, karena letaknya yang cukup strategis dan nyaman.

Ini foto hasil bidikan 'kabogohna' bung Cengos
Ini foto hasil bidikan ‘kabogohna’ bung Cengos

Kedekatan ane dengan bung Cengos terjadi ketika saat ane membantunya mengangkat tas selepas latihan pra-pengangkatan anggota pecinta alam SMA Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya. Itu juga merupakan saat pertama ane mengunjungi rumahnya. Tetap saja sedekat-dekatnya ane dengan bung Cengos, bung Iwik tetap menjadi yang terdekat. Hahai…

Kebaikan bung Cengos sangat menolong ane ketika terkapar di pool Budiman kota Tasikmalaya. Saat itu tidak ada tukang ojeg yang stand-by, sementara ane sudah kebelet pengen pulang ke rumah. Akhirnya dengan modal pulsa 300 perak saja, ane berhasil memanggil arwah bung Change-House. Dengan gesit dan cekatan bung Cengos mengantarkan ane sampai ke baiti-jaddatii. Horeee… Thanks bung Cengos!

Kini bung Cengos sedang merapat ke daerah pegunungan Singaparna, tepatnya di Cigalontang. Perjuangannya untuk melestarikan keturunan agar menjadi generasi penerus yang berbakti dan taat. Selesaikan misimu, bung! Kami mendukungmu!

 

Salam,

Veteran CS

Van D Teach

Imam Fahmi N: Senandung Lagu, Ilmu Baru

Posted on

Kemampuan seseorang dalam memproses suatu informasi memang berbeda-beda. Ada orang yang lebih peka pendengarannya, ada juga pengelihatannya, namun tidak jarang orang harus melakukan keduanya untuk memproses serta menyimpan informasi yang diberikan.

Lho, biografi kok jadi ilmiah gini ya? Haha… Kali ini saya akan bercerita singkat tentang sohib ane dari SMA Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya, Jawa Barat (Lengkap bingits!). Nama lengkapnya adalah Imam Fahmi Nasrulloh, artinya kurang lebih pemimpin yang pintar dan diberi pertolongan Allah. Gitu kali ya, mam?

"Milarian cai nu bersih aya di dieu. Pas pisan simkuring keur marules." Ceuk Imam. (Peace nya, hehe)
“Milarian cai nu bersih aya di dieu. Pas pisan simkuring keur marules.” Ceuk Imam. (Peace nya, hehe)

Sebenarnya, banyak sekali laqob (panggilan) bagi Imam, di antaranya: Ableh, Jimho, Franky, The River, Simple Plan (Lho… lho… kok bisa nyasar gini?).

JADI ‘KORBAN’ ORANG ANEH

Pada hari itu merupakan hari yang cukup memalukan bagi Imam. Bagaimana tidak, dia harus bertanggungjawab terhadap perbuatan yang bukan dilakukannya. Kronologinya, waktu itu Imam sedang tidak ada di kamar pesantren. Karena ada urusan sesuatu, Imam meminjam handphone milik temannya (di pesantren saya, dilarang membawa handphone). Malangnya, Imam lupa menyembunyikan kembali handphone milik temannya sehingga ketika itu seorang ustadz masuk asrama kemudian merazia HP milik temannya.

Nasib buruk tidak hanya sampai di situ, ustadz itu membuka HP-nya kemudian menemukan file yang tidak seharusnya berada di lingkungan pendidikan. Akhirnya, Imam dihukum dengan pasal berlapis (kayak di persidangan kepolisian aja), yakni telah membawa HP dan menyimpan file ‘aneh’.

PINTAR BERBAHASA DARI SUARA

Di atas telah disebutkan hal anehnya, sekarang positifnya. Imam tipe orang yang cerdas. Dengan mendengarkan lagu, dia mampu menuliskan liriknya (padahal lagunya Barat dan ngga jelas nyanyi apa). Alhasil, nilai bahasa asingnya selalu di atas rata-rata kelas. Dia pun merupakan bagian bahasa ketika menjabat di IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah, sejenis OSIS).

Mungkin beberapa kata di atas belum cukup untuk mewakilkan bagaimana Imam itu dan siapa Imam itu. Namun jangan khawatir, insya Allah bila ada kesempatan lain, saya akan beberkan semuanya tentang Imam. Hehe… (kecuali rahasia pribadinya)

Be confident on your aim and never give up, Franky!

Selfan F Aziz: Kehadirannya, Mencairkan Suasana

Posted on

Pernah mendengar fenomena lawan jadi kawan? Memang hal tersebut benar adanya. Bahkan, seperti yang saya alami sendiri, awalnya kawan, kemudian lawan, akhirnya tetap menjadi kawan. Alhamdulillah sungguh ‘sesuatu’ sekali.

Jika ada orang yang bertanya, “Siapa teman akrabmu yang dulu pernah menjadi lawanmu?” Maka dengan percaya diri, salah satu orang yang akan saya sebutkan ialah “Selfan!”

In memoriam of... eh?!
In memorial of… eh?!

Ibarat es di tengah gurun pasir, Selfan memiliki karakter unik yang tidak dimiliki orang lain. Dia mampu mencairkan suasana ketika suasana mencekam, horor, tegang (macam di kuburan saja). Sewaktu pesantren, Selfan kerap menjadi bahan tertawaan teman saya. Meski demikian, Selfan tetap kuat dalam menghadapi terpaan badai itu (mulai lebay nulisnya).

Dia pernah berkata, bahwa apa yang terjadi kepadanya saat duduk di bangku SMA mungkin akibat dari perbuatannya semasa SMP dulu. “Sigana mah ieu teh karma, pedah urang sok moyokan batur pas keur SMP baheula.” Tuturnya. (Terjemahan: Mungkin ini karma karena saya sering mengejek orang lain ketika SMP dulu)

Hal yang membuat kami saling terikat ialah kesamaan kami dalam kegemaran membaca komik dan menonton anime. Saya cenderung menyukai serial ninja ‘Naruto’ kala itu, sedangkan Selfan sangat fanatik dengan serial bajak laut ‘One Piece’. Bahkan, dia menyamakan teman-temannya di SMA dengan tokoh fiksi One Piexe tersebut.

Adapun lainnya yang mendekatkan saya dan Selfan ialah hobi kami dalam bermain game komputer. Puncak kegilaan dia ketika bermain komputer ialah ketika duduk di bangku perkuliahan dan memilih jurusan IT (Ilmu Teknologi) komputer. Tetapi saya anggap wajar itu semua, karena saya pun pernah mengalami hal yang sama ‘tergila-gila’ pada game sewaktu SMP hingga SMA.

Terakhir kali pertemuan kita, saya beserta beberapa prajurit tembak (Ucok/Miftah, Icung/Qisty, Oyek/Nasirudin, Cengos/Azmi, Iwik/Robby, dan Selfan) memainkan game Counter-Strike secara LAN (Local Area Network). Pengalaman yang membekas di dalam ingatan saya. Selamat jalan para purnawirawan CS!

Erwin Yazi: Berjiwa Pengusaha, Berpedoman Agama

Posted on Updated on

Dalam kehidupan seseorang, ada faktor pengaruh orang lain yang membuat kita berubah, apakah itu menjadi baik maupun sebaliknya. Peranan orang yang merubah prinsip hidup kita haruslah dihargai, begitu pun sohib saya yang satu ini.

Zaman saya duduk di bangku SMA, sungguh saya telah mencerminkan sikap apatis (aku-ra-urus) alias acuh terhadap sesuatu yang sebenarnya sangatlah penting. Katakanlah saat itu saya acuh dalam belajar ketika di pesantren. Tidak hanya belajar, dalam beribadah pun seringkali merasakan malas.

Detik-detik menjelang perubahan mind-set saya, sosok orang aneh yang pura-pura serius ini datang (Erwin). Nama lengkapnya Erwin Yazi Aliansyah. Tidak hanya keren namanya saja, begitu pula otaknya.

Jujur, saya cenderung menghindari sosok orang cerdas selama saya duduk di bangku SMP sampai kelas dua SMA. Menurut saya, orang pintar sudah seharusnya berkawan dengan yang sebanding. Rasa pesimis inilah yang menyebabkan saya hanya bergaul dengan orang yang kurang memotivasi hidup saya.

Kekonyolan Erwin (Tengah) ketika mengikuti seminar Citizen Journalism oleh koran Pikiran Rakyat
Kekonyolan Erwin (Tengah) ketika mengikuti seminar Citizen Journalism oleh koran Pikiran Rakyat

Kelas tiga SMA merupakan jenjang ketika saya diakrabkan oleh sosok Erwin. Panggilannya beragam, bisa ‘Oe’, kadang ‘O-heh’, ada juga ‘Ewing’, macam-macam lah sebutan anak pesantren yang dimilikinya.

Berlatar-belakang keluarga yang sangat sederhana, orang tua Erwin berusaha keras menyekolahkan anaknya di sekolah bergengsi bin mahal. Tapi hasilnya sungguh tidak mengecewakan, jejak rekam prestasinya sangat baik, meski pernah menurun karena urusan pribadinya.

Erwin ‘berubah’ menjadi orang yang konyol ketika dia mulai berbaur dengan teman seangkatannya yang aneh. Salah satunya saya. Dia termasuk one of my sohib jiddan that changes my mind at Amanah Islamic boarding school.

Kini, Erwin sudah berkeluarga dan sudah mempunyai seorang putra nan lusu, Rasyid namanya. Istrinya ialah adik sekolahnya semasa di pesantren, Raisa. Langgeng amat ya, hehe…

Sosok yang semula eksklusif kini menjadi inklusif. Introvert menjadi ekstrovert. Sungguh saya bangga berkawan denganmu, sob!