TK

Yasir Arafat: Teman Lama, Berujung Duka

Posted on

Yah… Inilah kisah yang paling jauh dari kesan menyenangkan bagi saya. Awal perjumpaan tidak seindah awal pertemuan. Apapun yang datang pada kita, pasti harus pulang pada asalnya. Itulah kodrat makhluk ciptaan-Nya.

Ketika itu, tahun 1995, saya mulai bersekolah di Taman Kanak-Kanak (TK) Bina Athfal. Saat itu Banten masih bergabung dengan Jawa Barat, Cilegon belum menjadi kota, dan Kecamatan Gerogol belum ada. Saat itulah ibu saya berkata,

“Nanti jika kamu bertemu dengan teman baru, ajak kenalan duluan! Tanya siapa namanya, dari mana asalnya, di mana alamatnya. Harus berani!”

Perkataan itu masih terngiang di telinga saya (bahkan sampai saat ini). Dahsyatnya ucapat seorang ibu.

Lalu, saya diantar ke sekolah yang jaraknya tidak terpaut jauh, namun harus menyeberangi jalanan protokol agar dapat sampai ke sana. Zaman saya TK, kendaraan pribadi belum sepadat kini, angkutan umum masih jadi primadona transportasi masyarakat. Bahkan, presidennya pun masih Soeharto. Ya… saya adalah anak yang lahir pada rezim Orba (orde Baru).

Hanya ini foto Yasir yang saya miliki ketika TK dahulu.
Hanya ini foto Yasir (tengah) yang saya miliki ketika TK dahulu.

Sesampainya di sekolah, saya masih menunggu bel masuk berbunyi. Ketika ibu saya bergabung dengan ibu-ibu lainnya yang sedang menunggu anaknya, maka saya mulai dekati anak yang berdiam diri merenungi nasib di dekat pagar depan kelas.

Ku hampiri orangnya, lalu ku tanya,

“Eh, kenalan dong… Nama saya Ivan. Kamu siapa?”

Dia pun menjawab,

“Yasir Arafat”

Lalu kami pun bersalaman layaknya direktur yang menyepakati MOU perusahaan. Saat itu merupakan momen yang elok untuk dikenang. Di satu sisi, saya telah berhasil melawan rasa malu saya untuk bertanya. Di sisi lain, saya menambah tali silaturahim dengan orang yang baru saya kenal.

Awal pertemanan saya dengan Yasir, kami bak sahabat yang selalu pergi ke mana-mana berduaan. Itu dikarenakan alamat rumah (sementara/kontrakan) Yasir tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Ayahnya merupakan seorang PNS di kantor Imigrasi, dekat restoran Dana Raya. Sementara Yasir merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Dialah satu-satunya anak laki-laki di antara saudara kandungnya.

Ternyata, lama usia pertemanan tidak menguatkan tali persaudaraan kami. Malah semakin merenggang, hingga akhirnya saya ‘harus’ bermusuhan dengannya di kelas tiga SD. Telah banyak perkelahian yang kami lalui sebelumnya, namun saat-saat terakhir menjelang kepergiannya, saya malah belum bisa menyambung hubungan pertemanan kami.

Hingga pada akhirnya, Yasir beserta keluarganya pergi ke kampung halamannya, Aceh, sebab mutasi kerja ayahnya. Selang beberapa tahun kemudian, tepatnya tanggal 26 Desember 2004, terjadi tsunami besar di Aceh. Teringat nasib temanku, bagaimana kabarnya di sana. Setelah informasi menyebar dari kantor Imigrasi dekat rumah, ternyata semua anggota keluarganya dinyatakan hilang, kecuali kakak sulungnya yang sedang menempuh pendidikan di pulau Jawa.

 

Itulah saat kami berpisah… untuk selamanya… Semoga tenang di alam sana, Yasir.